Monday, August 20, 2007

Kehidupan.... Pengajaran Dari Kisah Nabi Yusuf....

Assalamualaikum……

Dari Komen Cerita saya yang lepas, Ada sahabat yang mencadangkan agar Kisah nabi Yusuf di Jadikan rujukkan. Bagaimanakah beliau mentadbir budget negeri Mesir?

Dalam kelapangan masa di tempat kerja ini saya mebuat search mengenai kisah nabi Yusuf dan terjumpa Laman ini yang menceritakan kisah nabi Yusuf. http://www.dzikir.org/b_ceri11.htm

Memang banyak pengajaran yang kita boleh ambil. Dari niat asal untuk mengetahui bagaimana beliau melakukan pengurusan kewangan…… Rasanya saya lebih banyak mendapat pengajaran dari segi kehidupan.

Di bawah ini saya pastekan pengajaran yang di tulis di laman web tersebut:

Pengajaran yang didapat dari kisah Nabi Yusuf A.S.

Banyak ajaran dan ibrah yang dapat dipetik dari Kisah Nabi Yusuf yang penuh dengan pengalaman hidup yang kontriversi itu. Di antaranya ialah :~ Bahwasanya penderitaan seseorang yang nampaknya merupakan suatu musibah dan bencana, pd hakikatnya dalam banyak hal bahkan merupakan rahmat dan barakah yang masih terselubung bagi penderitaannya.Karena selalunya bahwa penderitaan yang di anggapkan itu suatu musibah adalah menjadi permulaan dari kebahagiaan dan menjadi kesejahteraan yang tidak diduga semula. Demikianlah apa yang telah dialami oleh Nabi Yusuf dengan pelemparan dirinya ke dalam sebuah perigi oleh saudara-saudaranya sendiri, disusuli dengan pemenjaraannya oleh para penguasa Mesir. Semuanya itu merupakan jalan yang harus ditempuh oleh beliau untuk mencapai puncak kebesaran dan kemuliaan sebagai nabi serta tngkat hidup yang mewah dan sejahtera sebagai seorang penguasa dalam sebuah kearajaan yang besar yang dengan kekuasaannya sebagai wakil raja, dapat menghimpunkan kembali seluruh anggota keluarganya setelah sekian lama berpisah dan bercerai-berai. Maka seseorang mukmin yang percaya kepada takdir, tidak sepatutnya merasa kecewa dan berkecil hati bila tertimpa sesuatu musibah dalam harta kekayaannya, kesihatan jasmaninya atau keadaan keluarganya. Ia harus menerima percubaan Allah itu dengan penuh kesabaran dan tawakkal seraya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar melindunginya dan mengampuni segala dosanya, kalau-kalau musibah yang ditimpakan kepadanya itu merupakan peringatan dari Allah kepadanya untuk bertaubat. Dan sebaliknya bila seseorang mukmin memperoleh nikmat dan kurinia Allah berupa perluasan rezeki, kesempurnaan kesihatan dan kesejahteraan keluarga, ia tidak sepatutnya memperlihatkan sukacita dan kegembiraan yang berlebih-lebihan. Ia bahkan harus bersyukur kepada Allah dengan melipat gandakan amal solehnya sambil menyedarkan diri bahwa apa yang diperolehnya itu kadang-kadang boleh tercabut kembali bila Allah menghendakinya. Lihatlah sebagaimana teladan Nabi Yusuf yang telah kehilangan iman dan tawakkalnya kepada Allah sewaktu berada seorang diri di dalam perigi mahupun sewaktu merengkok di dalam penjara, demikian pula sewaktu dia berada dalam suasana kebesarannya sebagai Penguasa Kerajaan Mesir, ia tidak disilaukan oleh kenikmatan duniawinya dan kekuasaan besar yang berada di tangannya. Dalam kedua keadaan itu ia tidak melupakan harapan, syukru dan pujaan kepada Allah dan sedar bahwa dirinya sebagai makhluk yang lemah tidak berkuasa mempertahankan segala kenikmatan yang diperolehnya atau menghindarkan diri dari musibah dan penderitaan yang Allah limpahkan kepadanya. Ia mengembalikan semuanya itu kepada takdir dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Nabi Yusuf telah memberi contoh dan teladan bagi kemurnian jiwanya dan keteguhan hatinya tatkala menghadapi godaan Zulaikha, isteri ketua Polis Mesir, majikannya. Ia diajak berbuat maksiat oleh Zulaikha seorang isteri yang masih muda belia, cantik dan berpengaruh, sedang ia sendiri berada dalam puncak kemudaannya, di mana biasanya nafsu berahi seseorang masih berada di tingkat puncaknya. Akan tetapi ia dapat menguasai dirinya dan dapat mengawal nafsu kemudaannya, menolak ajak isteri yang menjadi majikannya itu, karena ia takut kepada Allah dan tidak mahu mengkhianati majikannya yang telah berbuat budi kepadanya dirinya dan memperlakukannya seolah-olah anggota keluarganya sendiri. Sebagai akibat penolakannnya itu ia rela dipenjarakan demi mempertahankan keluhuran budinya, keteguhan imannya dan kemurnian jiwanya. Nabi Yusuf memberi contoh tentang sifat seorang kesatria yang enggan dikeluarkan dari penjara sebelum persoalannya dengan Zulaikha dijernihkan. Ia tidak mahu dikeluarkan dari penjara kerana memperoleh pengampunan dari Raja, tetapi ia ingin dikeluarkan sebagai orang yang bersih, suci dan tidak berdosa. Karenanya ia sebelum menerima undangan raja kepadanya untuk datang ke istana, ia menuntut agar diselidik lebih dahulu tuduhan-tuduhan palsu dan fitnahan-fitnahan yang dilekatkan orang kepada dirinya dan dijadikannya alasan untuk memenjarakannya. Terpaksalah raja Mesir yang memerlukan Yusuf sebagai penasihatnya, memerintahkan pengusutan kembali peristiwa Yusuf dengan Zulaikha yang akhirnya dengan terungkapnya kejadian yang sebenar, di mana mereka bersalah dan memfitnah mengakui bahawa Yusuf adalah seorang yang bersih suci dan tidak berdosa dan bahwa apa yang dituduhkan kepadanya itu adalah palsu belaka. Suatu sifat utama pembawaan jiwa besar Nabi Yusuf menonjol tatkala ia menerima saudara-saudaranya yang datang ke Mesir untuk memperolehi hak pembelian gandum dari gudang pemerintah karajaan Mesir. Nabi Yusuf pada masa itu, kalau ia mahu ia dapat melakukan pembalasan terhadap saudara-saudaranya yang telah melemparkannya ke dalam sebuah perigi dan memisahkannya dari ayahnya yang sangat dicintai. Namun sebaliknya ia bahkan menerima mereka dengan ramah-tamah dan melayani keperluan mereka dengan penuh kasih sayang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa yang telah dialami akibat tindakan saudara-saudaranya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Demikianlah Nabi Yusuf dengan jiwa besarnya telah melupakan semua penderitaan pahit yang telah dialaminya akibat tindakan saudara-saudaranya itu dengan memberi pengampunan kepada mereka, padahal ia berada dalam keadaan yang memungkinkannya melakukan pembalasan yang setimpal. Dan pengampunan yang demikian itulah yang akan berkesan kepada orang yang diampuni dan yang telah dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam beberapa ayat Al-Quran dan beberapa hadis nabawi.

-----------------------------------------------------

Saya tak tahu mengapa, tetapi selepas membaca kisah ini, saya lebih banyak merenung kembali perjalanan kehidupan saya yang lalu atau lebih specific lagi kehidupan berkeluarga saya……

Sudah 7 Tahun saya mendirikan rumahtangga…… Banyak cabaran yang telah saya lalui.. Banyaknya dugaan… dari segi menjalankan tanggungwab sebagai seorang suami, seorang ayah dan seorang anak. Keperluan keluarga adalah penting bagi saya.

Secara sengaja saya mengaitkan sedikit kisah yusuf dengan kehidupan saya…… Bagaikan sekarang ini saya berada di awal 7 tahun yang subur setelah 7 tahun yang lampau saya melalui dugaan… Terasa amat penting pengurusan kewangan dilaksanakan sekarang ini sebagai persediaan masa hadapan. Kita tak dapat menduga apakah lagi dugaan yang akan datang tapi segalanya ada pengajaranya…

Anyway…… Setiap kita mempunyai pengalaman yang berbeza…… Tetapi formula untuk kita mencapai kebahagiaan, kesenangan atau ketenteraman adalah sama. Segalanya ada dalam Kitab Suci kita… terserah kepada kita untuk mempelajarinya.

Teringat kisah kejadian Nabi Adam… Allah mengajarkan Nabi Adam menyebut nama-nama benda yang tidak mampu dilakukan oleh Malaikat… Apakah Maksudnya? Apa yang saya nampak adalah kelebihan manusia adalah pada akal dan minda yang dikurniakan. Lihatlah sekeliling kehidupan kita sekarang…. Bermacam nama alat atau benda yang kalau kita tanya pada moyang kita pasti tidak mereka kenali... Manusia mampu mencipta alat baru dan menamakannya…… Segalanya datang dari Allah… kurniaan akal darinya..

Syukurilah nikmat yang dikurniakan... Gunakanlah akal.... banyakkan berfikir tapi haruslah dengan panduan...

Fikir-fikirkanlah....

Abdul Hamid

http://rabtle.blogspot.com

http://www.freewebs.com/rabtle

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails